Menitzone.com, Jakarta ][ Dewasa ini rutinitas masyarakat, dari luar tampak lancar, aman dan baik-baik saja. Mereka bangun pagi, menatap layar ponsel yang sudah dipenuhi notifikasi sebelum sadar sepenuhnya, berangkat kerja, menghadiri rapat, menyelesaikan tugas, lalu pulang dan menjalankan peran dalam keluarga. Hidup terlihat berjalan normal, tanpa kegaduhan yang mencolok.
Demikian tulis Edwin Manopo melalui rilis yang diterima Menitzone.com, Sabtu (11/04/2026).
Pulang ke rumah, kata Edwin, mereka menjalankan peran dalam keluarga seperti biasa. Dari luar, hidup terlihat berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada suara keras dan tidak ada adegan dramatis yang mengancam.
Namun di balik rutinitas itu, menurut jebolan Melbourne University ini, ada kelelahan mendalam yang jarang dibicarakan.
Bagi sebagian orang, kelelahan ini bukan sekadar akibat tuntutan hari ini, melainkan akumulasi dari pengalaman masa lalu yang belum sepenuhnya selesai, yang semakin diperberat oleh tekanan dunia modern yang bergerak terlalu cepat untuk dicerna dengan tenang.
Kita hidup dalam paradoks. Teknologi berkembang pesat, akses informasi terbuka lebar, pilihan hidup semakin banyak. Namun di saat yang sama, rasa aman justru terasa semakin rapuh.
Baca Juga: Mental – Emosional Masyarakat Indonesia Ditekan dan Tertekan Terlalu Lama
Pekerjaan yang dulu dianggap stabil mulai tergeser oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan. Ekonomi bergerak tanpa pola yang mudah diprediksi. Persaingan semakin ketat, sekaligus terasa makin impersonal.
“Teknologi berkembang sangat cepat. Standar keberhasilan pun berubah dengan cepat—sering kali lebih cepat daripada kemampuan batin manusia untuk menyesuaikan diri.
Banyak orang dipaksa untuk terus menyesuaikan diri, terus belajar, terus membuktikan nilai dirinya, seolah berhenti sejenak saja berarti tertinggal”, ujar Manopo.
“Di tengah situasi ini, muncul satu pertanyaan yang jarang diungkapkan secara jujur: Bagaimana jika kecemasan yang kita rasakan hari ini bukan hanya tentang masa kini, tetapi juga tentang sesuatu yang belum selesai di masa lalu?”, kata alumnus National University of Singapore ini.
“Inilah kompleksitas persoalan kesehatan mental masyarakat modern yang lebih daripada sekadar “stres karena pekerjaan” atau “cemas karena masa depan”, pungkas Edwin.
Bagi banyak orang, lanjut Edwin, kecemasan hari ini bukan hanya reaksi terhadap keadaan saat ini. Ia juga merupakan gema dari pengalaman- pengalaman lama yang masih tersimpan di dalam tubuh.
Tubuh tidak lupa. Ia hanya menyimpan
Ada keyakinan sunyi yang sering kita pegang, bahwa waktu akan menyelesaikan segalanya. Namun tubuh sering bercerita hal yang berbeda.
Masa lalu, menurut Neuropsychology Research Specialist ini, tidak selalu pergi begitu saja ketika waktu bergerak maju.
Sebagian pengalaman—terutama yang menyakitkan, memalukan, menakutkan, atau membuat seseorang merasa tak berdaya—memang berlalu sebagai peristiwa, tetapi jejak emosionalnya dapat menetap, tersimpan sebagai sensasi tubuh, pola emosi, reaksi otomatis, rasa sakit samar yang sulit diberi nama dan kewaspadaan yang terus aktif bahkan setelah ancaman aslinya sudah lama berlalu.
Ia tidak berbicara dalam bentuk cerita yang rapi. Tidak selalu hadir sebagai ingatan yang jelas.
Baca Juga: Indonesia Sedang Duduk di Atas Bom Waktu Emosi yang Siap Meledak
Ia muncul sebagai sensasi—rasa cemas yang datang secara tiba-tiba dan sulit dijelaskan. Ketegangan di dada tanpa sebab yang jelas, atau kekosongan yang sulit diberi nama—seolah ada sesuatu yang bergerak di dalam, tanpa bahasa.
“Pengalaman tidak hanya disimpan sebagai “apa yang terjadi”, tetapi sebagai “bagaimana rasanya”. Ia hidup dalam bentuk yang lebih halus, dan jauh lebih kuat. Ia hidup sebagai rasa. Dan rasa itu… tidak mengenal waktu”, terangnya.
Bayangkan seorang anak yang tumbuh di dalam rumah yang penuh ketegangan.
Bukan selalu kekerasan yang jelas terlihat—kadang hanya suara pintu yang dibanting, nada bicara yang meninggi, atau keheningan panjang yang terasa seperti ancaman. Ia mungkin tidak mampu menyebutkan secara runtut apa saja yang salah.
Baca Juga: Stres dan Penyakit Fisik: Teriakan Emosi yang Terkubur
Namun tubuhnya mengingat suara langkah kaki yang membuat otot menegang. Tubuhnya mengingat perubahan wajah orang dewasa yang harus dibaca cepat-cepat demi keselamatan emosional.
Tubuhnya mengingat keheningan yang terasa lebih menakutkan daripada teriakan. Tubuhnya mengingat bagaimana rasanya hidup di dalam ketidakpastian.
Ia belajar sangat cepat untuk sigap membaca perubahan kecil dalam ekspresi wajah atau intonasi suara. Hari demi hari, tubuh kecil itu belajar satu hal: waspada adalah cara untuk bertahan.
Setelah dewasa, ia mungkin tumbuh menjadi orang yang terlalu mudah merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain.
Terlalu sulit rileks dan merasa harus mengendalikan banyak hal agar tetap merasa aman. Ia mungkin tampak sangat mampu, sangat tangguh, sangat sigap membaca situasi.
Orang lain memujinya sebagai orang yang peka, waspada, atau
perfeksionis.
Bertahun-tahun kemudian, ia hidup di dunia yang tampak berbeda. Tidak ada lagi suara bentakan di rumah. Tidak ada ancaman yang nyata.
Tetapi suatu hari, di kantor, seseorang berbicara dengan nada sedikit lebih keras—dan tanpa disadari, jantungnya berdegup lebih cepat.
Nafasnya menjadi pendek. Telapak tangan basah berkeringat. Ada rasa tidak aman yang datang begitu saja, tanpa alasan yang “masuk akal”.
“Di sinilah sering terjadi kebingungan. Tubuh tidak sedang bereaksi terhadap hari ini saja. Ia sedang mengenali pola lama. Ia sedang mencoba melindungi, dengan cara yang dulu pernah menyelamatkan”, ungkap Edwin.
Baca Juga: Kesadaran Adalah Langkah’ Kecil yang Mengubah Emosi Dalam Reaksi Tubuh
Anak lain tumbuh dalam lingkungan yang tidak pernah memberinya rasa diterima secara utuh.
Bukan dengan kekerasan yang terang-terangan, tetapi dengan luka yang lebih halus dan berulang: Ia hanya dipuji saat berhasil, hanya dihargai saat berprestasi, atau justru sering dibandingkan dengan orang lain, jarang dipeluk secara emosional, tidak sungguh-sungguh didengar saat sedih, atau dibesarkan dalam lingkungan yang membuatnya merasa dirinya terlalu banyak, terlalu lemah, terlalu merepotkan.
Luka-luka seperti ini, menurut Edwin sering tidak dianggap besar. Namun justru karena hadir terus menerus, ia dapat membentuk keyakinan mendalam bahwa nilai diri harus terus dibuktikan, bahwa cinta
harus diperjuangkan, bahwa istirahat adalah kemewahan dan aman adalah sesuatu yang rapuh.
Ketika dewasa, orang itu mungkin tumbuh menjadi pribadi yang sangat takut tidak diprioritaskan, menjadi terlalu cepat merasa bersalah, menjadi perfeksionis, sulit beristirahat, terus merasa tertinggal, dan panik jika merasa tidak produktif. Dari luar, ia tampak ambisius.
Namun sebenarnya, ia mungkin sedang bertahan dari rasa takut akan dianggap tidak cukup.
Diterangkan Edwin, Tubuh tidak lupa. Ia menyimpan. Ia hanya menunggu sampai suatu hari—suara, situasi, ekspresi seseorang, atau bahkan keheningan—terasa cukup mirip dengan sesuatu yang pernah melukai.
“Otak mengartikan situasi yang sedang terjadi sebagai ancaman, ancaman menimbulkan rasa takut, takut yang diartikan sebagai ketidakpastian.
Dan saat itu terjadi, respons muncul. Cepat. Otomatis. Seolah semuanya sedang terjadi lagi, di sini, sekarang”, timpalnya.
Dunia Modern yang Menekan Tanpa Henti
Masa lalu bukan satu-satunya sumber tekanan. Dunia hari ini juga memberi beban yang nyata.
Di saat banyak orang masih membawa sisa luka yang belum sempat dipahami, dunia tidak melambat. Ia justru bergerak semakin cepat.
Perubahan datang bertubi-tubi—perkembangan pesat teknologi mulai menggantikan sebagian pekerjaan, harga kebutuhan hidup yang terus meningkat, ketidakpastian ekonomi, hingga konflik dan krisis yang muncul silih berganti di sudut lain dunia.
Informasi datang tanpa henti—ponsel membawa kabar buruk, perbandingan sosial, tuntutan kerja, dan kecemasan masa depan ke dalam genggaman kita.
Tidak semua hal ini menyentuh kita secara langsung. Banyak orang merasakan ketidakpastian ketika muncul bayangan kehilangan yang belum terjadi: kehilangan pekerjaan, kehilangan relevansi, kehilangan kestabilan, kehilangan tempat di dunia yang bergerak terlalu cepat.
Rasa tidak pasti menjadi latar belakang yang konstan. Seperti suara dengung yang pelan, tapi terus ada. Ia bukan sekadar persoalan pikiran.
Ia adalah ancaman biologis. Tubuh membutuhkan rasa aman, ritme, prediktabilitas, dan kemampuan memperkirakan apa yang akan datang.
“Ketika semua itu goyah, alarm internal mudah terus menyala. Jantung berdetak lebih cepat, tidur menjadi dangkal, nafas terasa pendek, pikiran berputar terus, emosi lebih mudah tersulut, dan tubuh seolah tidak pernah benar-benar turun dari mode siaga”, tutur Edwin.
Kecemasan Kolektif
Dan ketika ketidakpastian saat ini bertemu dengan tubuh yang sejak lama sudah belajar untuk waspada, yang muncul bukan sekadar stres biasa. Ia menjadi sesuatu yang lebih dalam—kecemasan yang terasa menyeluruh, kadang tanpa wajah yang jelas. Ini bukan kelemahan. Ini adalah respons yang sangat manusiawi.
“Itulah yang mungkin sedang terjadi hari ini. Banyak orang terlihat berfungsi, tetapi selalu hidup dengan mode siaga”, papar Edwin.
Mereka bekerja dengan kecemasan.
Mereka mencintai dengan ketakutan.
Mereka berprestasi dengan luka pembuktian diri.
Mereka terlihat kuat sambil menyimpan duka dan kelelahan yang tidak pernah mendapat makna.
Mereka bukan hanya lelah karena tanggung jawab, tetapi karena terlalu lama hidup dalam mode bertahan.
Karena itu, membicarakan kesehatan mental hari ini tidak cukup jika hanya berhenti pada anjuran untuk “lebih kuat”, “lebih positif”, atau “lebih adaptif.” Saran-saran seperti itu sering kali gagal menjangkau kenyataan bahwa banyak orang tidak sedang kekurangan motivasi.
Kenyataannya mereka kekurangan rasa aman. Mereka kekurangan ruang untuk memproses pengalaman.
Mereka kekurangan bahasa untuk memahami apa yang sebenarnya sedang mereka tanggung.
Lihatlah kehidupan sehari-hari masyarakat kota: suara notifikasi sejak pagi, lampu putih kantor yang dingin, kopi yang diminum terburu-buru, kemacetan panjang, klakson bersahutan, target yang tak berhenti, berita ekonomi yang mengganggu, rasa bersalah saat beristirahat, dan kekhawatiran diam-diam apakah semua usaha ini akan cukup. Semua itu tampak biasa karena terjadi setiap hari.
Namun justru dalam kebiasaan itulah tekanan modern bekerja paling kuat. Ia menjadi latar belakang permanen yang perlahan mengikis daya tahan emosi seseorang.
Tidak semua yang umum itu sehat. Tidak semua yang sering terjadi itu aman bagi jiwa.
Menyusun Kembali Cerita yang Terpecah
Di titik ini, refleksi menjadi penting. Bukan refleksi yang memaksa seseorang membuka luka mentah tanpa perlindungan, tetapi refleksi yang membantu menata pengalaman menjadi narasi yang lebih utuh.
Banyak orang hidup dengan emosi yang terasa kacau karena ceritanya sendiri belum tersusun. Yang mereka rasakan hanya gejalanya: cemas, marah, kosong, takut, lelah.
Tetapi ketika pengalaman mulai diurutkan—apa yang terjadi di masa lalu, bagaimana tubuh belajar merespons, pemicu apa yang muncul hari ini, dan mengapa dunia modern terasa begitu menekan—maka perlahan muncul makna.
Dan makna adalah salah satu pintu pemulihan.
Tanpa makna, penderitaan hanya terasa sebagai kebingungan yang tidak berujung.
Dengan makna, setidaknya seseorang mulai melihat bahwa dirinya bukan masalah yang harus dibuang, melainkan manusia yang sedang berusaha memulihkan hubungan dengan tubuh, emosi, dan kisah hidupnya sendiri.
Salah satu bentuk keberanian di tengah kerasnya dunia modern: berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri. Alih-alih bertanya “Kenapa saya seperti ini?”, kita bisa mulai dengan pertanyaan yang sedikit berbeda:
“Apa yang pernah saya alami, sehingga tubuh saya belajar merespons seperti ini?” “Apakah saya hanya lelah karena hari ini, atau ada bagian dari diri saya yang sudah lama kehabisan tenaga?”
“Apakah saya benar-benar gagal menghadapi hidup, atau tubuh saya hanya terlalu lama hidup dalam kewaspadaan?”
“Apakah kecemasan saya murni tentang masa depan, atau ia juga berasal dari masa lalu yang belum pernah diberi makna?”.
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak otomatis membuat hidup menjadi lebih ringan. Namun ia mengubah posisi seseorang terhadap rasa sakitnya.
Ia tidak lagi sepenuhnya tenggelam di dalamnya. Ia mulai bisa melihat, menamai, dan memberi bentuk.
Dan mungkin disanalah harapan yang lebih jujur dimulai. Bukan harapan yang dangkal, yang menuntut semua orang segera baik-baik saja.
Tetapi harapan yang lebih manusiawi: bahwa sekalipun masa lalu belum benar-benar pergi, sekalipun dunia terus menekan tanpa henti, manusia masih memiliki kemampuan untuk memahami dirinya, menyusun ulang ceritanya, dan perlahan berhenti hidup semata-mata dari ketakutan.
Sebab pada akhirnya, kita bukan hanya makhluk yang bisa terluka. Kita juga makhluk yang bisa memberi makna pada luka itu.
Kita bisa belajar membedakan mana ancaman yang nyata hari ini, mana gema dari rasa lama.
Kita bisa belajar bahwa tubuh yang selama ini terus berjaga bukan musuh, melainkan bagian dari diri yang terlalu lama berusaha melindungi.
Kita bisa berhenti menyebut diri rusak, dan mulai melihat diri sebagai manusia yang sedang membawa beban terlalu berat terlalu lama.
Tidak perlu terburu-buru menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Tidak semua jawaban datang dalam bentuk kata-kata. Kadang ia muncul sebagai potongan kecil—ingat pada sebuah ruangan, sebuah suara, atau bahkan hanya sebuah rasa yang familiar.
Jika Anda ingin mencoba, Anda bisa berhenti sejenak sekarang…
Perhatikan tubuhmu.
Apakah ada bagian yang terasa lebih tegang?
Apakah nafasmu terasa dangkal, atau justru berat?
Tidak perlu diubah. Cukup disadari.
Lalu, dengan lembut, tanyakan:
“Rasa ini… pernah aku kenal di mana sebelumnya?”.
Biarkan apa pun yang muncul, muncul. Tanpa dipaksa. Tanpa harus langsung dimengerti.
Proses memahami diri bukan tentang menggali luka tanpa batas. Ia tentang menciptakan ruang yang cukup aman untuk melihat—sedikit demi sedikit—bagaimana pengalaman membentuk cara kita merasakan dunia.
Karena itu, penting untuk menggunakan bahasa yang memanusiakan manusia. Kita tidak sedang berbicara tentang “orang bermasalah,” “orang rusak,” atau “orang yang tidak tahan banting.”
Kita sedang berbicara tentang manusia yang mungkin pernah mengalami tekanan terlalu banyak, terlalu dini, terlalu lama, atau terlalu sendirian.
Cara kita menamai pengalaman ini penting, karena bahasa yang kasar dapat memperdalam rasa malu, sementara bahasa yang tepat dapat membuka jalan bagi pemahaman.
Kembali ke Saat Ini, Dengan Lebih Utuh
Kita tidak bisa menghapus masa lalu. Tetapi kita bisa mulai membangun hubungan baru dengannya.
Bukan sebagai sesuatu yang harus dilawan, melainkan sebagai bagian dari cerita yang mencoba dipahami.
Karena pemulihan tidak selalu dimulai dari solusi besar. Kadang ia dimulai dari satu pengakuan sederhana namun radikal: “ya, ada yang pernah menyakitkan”; “ya, tubuh saya masih mengingat”; “ya, dunia hari ini terasa berat”; tetapi saya tidak harus selamanya hidup di bawah bayang-bayang semua itu.
Dan mungkin, di sana, perlahan muncul perubahan kecil. Dari “ada yang salah dengan saya” menjadi “ada sesuatu yang pernah terjadi padaku—dan aku sedang belajar memahaminya.”
Itu bukan akhir dari perjalanan.Tapi itu adalah awal yang jauh lebih lembut.
Mungkin dunia memang tidak akan melambat dan melembut demi kita. Teknologi akan terus berkembang.
Persaingan akan tetap keras. Ketidakpastian tidak akan hilang dalam waktu dekat.
Tetapi di tengah semua itu, kita tetap perlu satu hal yang paling mendasar: keberanian untuk memanusiakan pengalaman batin kita sendiri.
Saya bisa mulai memahami.
Saya bisa mulai menamai.
Saya bisa mulai menyusun ulang cerita saya.
Dan ketika cerita itu perlahan menjadi utuh, manusia tidak lagi hanya bertahan hidup.
Ia mulai, sedikit demi sedikit, akhirnya pulih. (*ben)
Edwin Manopo, Neuropsychology Research Specialist —bersambung—
