Menitzone.com, Bogor II Romanus Ndau, S.Fil., S.I.P mantan Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) Bidang Litbang membuka pemaparannya menyatakan rasa syukur dan bangganya karena telah dikirim Tuhan menjadi pejabat publik untuk pertama kalinya di Komisi Informasi Pusat.

Roman sapaan akrab Master Ilmu Politik Jebolan UI ini pun mengakui dirinya menjadi lebih mencintai Indonesia karena dapat melayani masyarakat dengan keterbukaan informasi ketika berada dan melalui KIP. Karenanya ia tak segan-segan mengajak segenap warga KIP mulai dari Komisioner hingga semua pegawai untuk berbangga karena telah diutus Tuhan berada di lembaga ini untuk membesarkan lembaga ini.
Demikian disampaikan mantan Kepala Litbang Partai Golkar ketika tampil sebagai narasumber pada Acara Sosialisasi Tim Kerja Sekretariat Komisi Informasi Pusat Tahun 2023 yang dipandu langsung Plt. Kepala Sekretariat KIP, Nunik Purwanti pada Selasa, 27 Desember 2022 di The Sahira Hotel, Jl. A. Yani Bogor.

Lebih jauh Dosen Etika Profesi pada Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Tarakanita ini pun mengharapkan agar setiap orang yang pernah ada dan masih bekerja di KIP harus memiliki tanggung jawab moral untuk merawat dan membesarkan KIP, karena KIP telah mengangkat dan membesarkan mereka.
“Saya kira siapapun kita, kita dibesarkan oleh lembaga ini maka kita pun harus membesarkan lembaga ini”, ujar kandidat Doktor Lingkungan pada Universitas Katolik Soegijapranata Semarang ini.
Bertajuk “Filosofi, Kebersamaan dan Membangun Komunikasi Organisasi yang Efektif”, alumnus Filsafat UGM ini menguraikan dengan cukup sederhana dan detil perihal keterbukaan informasi yang menjadi hak asasi publik untuk mendapatkan informasi yang benar dan akurat demi kebaikan Bersama (bonum commune). “Sebaik-baiknya pekerjaan kita adalah, kalau publik terlayani dengan baik”, ungkapnya.
Mengingat betapa pentingnya keterbukaan informasi publik demi mencapai kebaikan bersama atau bonum commune maka Roman tidak segan-segan mendesak Komisioner KIP Edisi ke-4 ini untuk meminta presiden segera menunjuk Juru Bicara. Pasalnya Presiden Joko Widodo sering kedodoran tatkala media meminta klarifikasi atas kepastian suatu informasi semuanya lari ke presiden.
“Saya kira kalau bisa sebagai Komisioner Komisi Informasi meminta kepada presiden segera menunjuk Juru Bicara. Penting sekali! Penting sekali! Hari ini untuk mengatakan bahwa ini adalah keputusan negara, omongan siapa yang mau didengar. Bagaimana Menteri A dan Menteri B punya pendapat yang berbeda tentang hal yang sama? Siapa yang meluruskan ini?”, keluhnya mendesak.
Sementara Ketua KIP Donny Yogieantoro secara daring menyatakan bahwa inti dari keberlangsungan KIP adalah Komunikasi. Karena setiap periode kepemimpinan tidak selalu sama sehingga perlu adanya komunikasi untuk selalu saling mengingatkan. “Yang baik dipertahankan dan ditingkatkan sementara yang kurang baik diperbaiki”, ujarnya.
Sedangkan narasumber lain, Bambang Sigit Nugroho memberi masukan terkait kekhasan KIP sebagai sebuah lembaga publik yang belum kelihatan. Karena menurutnya, sebuah lembaga akan dilihat jika lembaga tersebut memiliki kekhasan seperti lambang, mars dan yang lainnya.

Menurut Bambang, KIP memang belum digarap secara baik sehingga belum terlalu dikenal seperti KPK, KPU. Karenanya dia menyarankan agar KIP perlu punya juru bicara untuk menyampaikan hal-hal yang menjadi hak masyarakat untuk mengetahuinya.
Bambang optimis jika KIP dikelola secara baik maka akan menjadi lembaga yang besar.
Beda dengan narasumber lainnya, H. Hendra Purnama yang mengakui mengetahui secara persis perjalanan KIP sejak awal hingga kini, tampil sangat kritis menyoroti kurangnya kerjasama yang terjadi dalam lembaga terhormat ini. Karenanya berulang kali Hendra mengingatkan pentingnya kolaborasi dan sinergi antara para Komisioner serta mengingatkan untuk bekerja sesuai aturan. (beny)
