Meriahrayakan Hari Disabilitas Internasional, “Jemari” Tampilkan Teater Musikal Tuli-Dengar Pertama di Indonesia

0
65

Menitzone, Jakarta ][ Bagai minyak dan air yang tak mungkin menyatu, namun dapat dinikmati kebersamaannya lewat sajian lezatnya makanan.

Hari Disabilitas Internasional

Demikian juga kaum tuli dan dengar* yang nampaknya sulit menyatu namun dapat dinikmati kebersamaannya lewat seni, ” Jemari“: teater musikal tuli-dengar pertama di Indonesia yang akan segera tayang 3-7 Desember 2025 mendatang di Salihara- Jaksel.

Pascal Meliala sang Produser “Jemari” menyatakan bahwa semuanya ini bisa terjadi oleh dukungan semesta lantaran karena ingin menunjukkan jika ada niat baik dan dukungan yang tepat maka setiap orang bisa mencapai tujuan dan menggapai harapan yang diinginkannya.

“Tujuan dari Jemari ini adalah menunjukkan bahwa kalau kita mau, kita punya niat, dan didukung dengan lingkungan yang tepat, maka kita bisa,” ujar Pascal.

Hari Disabilitas Internasional
Foto: Pascal

Mempertemukan Pemeran Tuli dan Dengar dalam satu panggung pentas tentu tidak muda bagi seorang koreografer. Sebab bahasa verbal dari pemeran dengar tidak bisa didengar oleh pemeran tuli. Di sini kecakapan seorang koreografer diuji.

Dhea Seto, koreografer tim Mentari yang ditemui Menitzone.com usai acara press conference di Grand Indonesia Kamis, 20/11/2025 membenarkan adanya tantangan tersebut. Bahwa sesungguhnya kaum tuli juga punya kemampuan dan keinginan untuk belajar namun kurang mendapat akses.

Hari Disabilitas Internasional
Foto::Dea

Tuli hanya bisa dengan bahasa isyarat sehingga sebagai koreografer pihaknya selalu melibatkan juru bicara bahasa isyarat (JBI).

Akan tetapi menurut Dhea, tantangan itu sekaligus kebaikan karena semuanya menggunakan gerakan tangan dan jari yang menyatu dalam satu kata “seni”..

Lewat seni menari dan gerak inilah tidak hanya penari dengar yang berkembang tetapi kemampuan gerak dalam berbahasa isyaratpun semakin dalam dan mantap bagi penari tuli.

Dengan demikian, lanjut Dhea pihaknya selalu melibatkan JBI dalam latihan sehingga kolaborasi antara Pemain Dengar dan Pemeran Tuli tetap terjaga dan terjalin. Maka diharapkan juru bahasa isyarat TDK boleh salah.

Selain dapat dukungan yang tepat dan kuat para kru produser, Adelia Hermawan berperan sebagai Lestari (ibu Mentari) kaum dengar yang berhadapan dengan anaknya Mentari (tuli-pemeran utama) dengan semangat juang yang tinggi dan penuh penjiwaan tentu menambah semangat dan pertebal keyakinan.

‘Ketika dulu saya kecil, saya pernah merasa dikucilkan pergaulan. Maka dari itu, saya paham betul rasanya tidak dianggap, sehingga menjadikan saya orang yang selalu ingin menerapkan inklusivitas, dimanapun saya berada”, tutur Adelia di penghujung acara pres conference cuplikan “Jemari” di Galeri Indonesia Kaya Grand Indonesia.

Hari Disabilitas Internasional
Foto: Adel

Produksi ini menjadi langkah penting dalam menampilkan kemampuan, cerita, serta ekspresi artistik komunitas Tuli di panggung nasional.

Melalui karya ini, Fantasi Tuli bertujuan memperluas kesadaran publik dan menunjukkan bahwa seniman Tuli memiliki tempat penting di dalam ekosistem seni pertunjukan Indonesia.

“Jemari” menawarkan pengalaman teater musikal yang menggabungkan bahasa isyarat, musik, gerak, dan teater, menghadirkan pertunjukan yang dapat dinikmati oleh penonton Tuli maupun dengar.

Karya ini menandai komitmen Fantasi Tuli untuk menghadirkan bentuk pertunjukan yang inklusif dan memperkaya keberagaman artistik.

Dengan “Jemari,” Fantasi Tuli menyampaikan bahwa inklusivitas bukan sekadar konsep, melainkan pengalaman nyata yang dapat dirayakan dan dibagikan.

Bersama para pendukung dan mitra kreatif, termasuk Cerita Beda Hak Sama (CBHS), produksi ini menghidupkan kesadaran baru bahwa perbedaan dapat menciptakan harmoni, dan setiap tangan membawa cerita yang layak untuk dibagikan. (ben).

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini