by: Zeng Wei Jian
Kurawa jumlahnya seabrek. Pandawa hanya 5 plus Lord Krsna. Timnas 01 Amin menyiagakan 1000 lawyer. Tim Ganjar-Mahfud bayar 100 orang kuasa hukum. Ruang sidang MK ga muat. Sesak. Berhimpit. Desak-desakan. Berebut ruang dengan amarah, rasa malu, dan ketololan 2 paslon pecundang.
Media social diramein statement Ganjar Pranowo tolak jabatan menteri di Kabinet Prabowo.
Netizen serempak teriak. Ga rela Anies-Ganjar masuk kabinet. Gibran Rakabuming respon. Dia heran. Faktanya ga ada yang nawarin Ganjar Pranowo masuk kabinet. Ketua Harian Partai Gerindra Prof. Sufmi Dasco Ahmad mengkonfirmasi. Jawabannya tegas. Kubu Prabowo-Gibran Ga pernah nawarin posisi menteri kepada Anies & Ganjar.
High-call Paslon 01 dan 03 adalah Pilpres Ulang dengan diskualifikasi 02. Minimal “Diskualifikasi Gibran”. Jadi yang bertanding hanya 01 kontra 03. Seenak jidat mereka aja. Lawyer 03 malah berani menyatakan Perolehan Suara 02 adalah Nol di setiap provinsi.
Perilaku Paslon 01 & 03 di luar kewajaran. Bablas. Kurang-Ajarnya berlebihan. Netizen menilai mereka masuk kategori ODGJ elite.
Capres Anies & Ganjar ga penting dirangkul. Alasan #1; Mereka boneka asing yang ingin stop hilirisasi. Pemain politik identitas. Radicals. Marhaenis Palsu. Sombong-nya minta ampun.
Kedua; mereka ga punya pengaruh di partai. Basis massa ga jelas. Bukan pengendali policy partai.
Ketiga; kualifikasi kualitas keduanya rendah. Cuma bisa ngoceh & pencitraan. Nir-prestasi selama jadi kepala daerah. Tersangkut kasus korupsi. Prabowo-Gibran mesti bangun kabinet “zaken-proporsional-representatif” i.e. menteri-menteri ahli di bidangnya yang berasal dari partai koalisi.
Ada yang curiga terhadap motif Anies-Ganjar berselisih di MK. Gugatannya ngawur. Narasi tanpa bukti. Pagelaran cengeng. Sedikit sadis. Nyeleneh. Ga logic. Seolah sadar bakal ditolak hakim & kalah dua kali. Tapi tetep nekad diajukan. For what…??
Mungkinkah motif mereka hanya bargain supaya ga ditangkep KPK. Kasus Korupsi keduanya ada di KPK. Bila dicomot sekarang, penjilat-setianya akan teriak “dizolimin”.
THE END




